Bila ingin menikmati wajah lain Bali selain jalan sempit yang disesaki hotel dan restoran,
beranjaklah menjauh dari selatan pulau dan menuju desa-desa tradisional berikut untuk
menikmati waktu yang terasa terhenti.

Bali Timur merupakan tempat terbaik untuk menyaksikan kehidupan masyarakat Bali yang masih asli. Tak jauh dari Jalan Raya Candidasa, terdapat desa tradisional Tenganan yang merupakan rumah bagi para masyarakat Bali Aga. Telah mendiami Bali jauh sebelum Kerajaan Majapahit berkuasa, hingga hari ini masyarakat Tenganan masih melakukan ritual kuno. Di antaranya Festival Usaba Sambah yang ditandai dengan dua orang pria saling memukulkan daun pandan berduri hingga mengeluarkan darah.

Desa Tenganan hingga kini tetap kokoh berdiri seakan tak peduli dengan perubahan zaman. Tiga balainya yang berjajar di tengah desa tampak kusam dimakan usia.

Penduduk Desa Tenganan banyak yang menjual hasil kerajinan tangan berupa lukisan di daun lontar, anyaman bambu, ukiran, dan yang paling terkenal adalah kain geringsing. Kain yang hanya diproduksi di sini ini memang asli buatan tangan, sehingga harganya pun mahal.

  • Desa Adat Penglipuran, Bangli

Desa asri ini terletaknya pada jalur utama Bangli dan Kintamani, tepatnya di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli. Tersedia area parkir yang memadai, untuk menyusuri desa wisata ini harus berjalan kaki dan terlebih dulu membeli tiket.

Desa ini konon sudah berdiri sejak abad kedelapan, yaitu ketika Kerajaan Bangli memerintahkan warganya di Desa Banyu Kintamani untuk pindah ke Penglipuran yang kini menyisakan banyak rumah tua beratapkan bambu. Inilah sebabnya desa ini dikelilingi hutan bambu sebagai tempat tumbuh berbagai spesies bambu. Selain berjalan-jalan di desa yang masyarakatnya masih ber gaya hidup tradisional ini, pengunjung juga dapat menyusuri hutan bambu seluas sekitar 45 hektar.

  • Desa Kemenuh, Ubud

Berada di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Desa Kemenuh berjarak hanya 10 menit dari pusat Ubud. Dikelilingi pemandangan sawah yang menakjubkan, desa ini dibelah Sungai Petanu yang berair jernih dan membentuk air terjun di Tegenungan.

Di tahun 1970-an, Desa Kemenuh adalah pusat kerajinan patung di Bali dan hingga kini pun di seantero desanya masih dipenuhi toko kerajinan. Kemenuh juga memiliki tradisi unik bernama Ngedeblag, di mana ratusan warganya sembahyang dan memberikan sesajen dengan diiringi bunyi-bunyian dari gong, besi, dan terompet setiap bulan (sasih) kelima dalam kalendar Bali untuk memohon keselamatan. Hal ini karena masyarakat setempat percaya bahwa dalam bulan kelima itulah sering terjadi penyakit.

Teks: Melinda Yuliani

Previous articleMenaklukkan Rinjani
Next articleInilah Barang-Barang yang Tidak Boleh Dibawa ke Pesawat!