Semasa pandemi dan pembatasan perjalanan, banyak atraksi wisata yang menawarkan tur virtual bagi pejalan di rumah. Di antara sejumlah museum dan tempat bersejarah di seluruh dunia, beberapa destinasi ini menarik perhatian karena menawarkan suasana kelam dan cerita suram. Kali ini, jalan-jalan virtual menuju destinasi suram membawa pejalan mengunjungi kota mati di Ukraina, kamp konsentrasi di Polandia, kuburan bawah tanah di Prancis, dan rumah misterius di Amerika Serikat.

Miniseri Chernobyl yang ditayangkan HBO tahun lalu, menuai pujian dari penonton dan kritikus. Dalam lima episode, Chernobyl menceritakan kisah nyata ledakan yang terjadi di lab uji coba nuklir di Chernobyl, Ukraina pada April 1986. Kisah suram yang menyita perhatian dunia saat itu tak hanya diangkat ke layar televisi tapi juga dapat dikunjungi langsung oleh wisatawan yang memiliki minat khusus.

Jauh sebelum miniseri Chernobyl beredar, pariwisata Ukraina sudah membuka layanan tur menuju lokasi berbahaya ini yang tampak seperti kota mati. Terdapat sejumlah operator perjalanan yang membuka kesempatan bagi wisatawan untuk menyusuri sudut-sudut kota tanpa penghuni tersebut. Semenjak miniseri ini tayang, jumlah wisatawan kian meningkat karena banyak yang dibuat penasaran mengenai rupa kota yang sempat dilarang untuk dikunjungi akibat tingginya paparan radiasi setelah ledakan.

Sejumlah titik penting masuk dalam daftar kunjungan saat mengikuti tur di Pripyat, seperti Desa Zalissya yang diisi rumah dan peternakan yang terbengkalai; Red Forest yang menjadi lokasi dengan tingkat radioaktif terparah; kota Pripyat yang saat itu dihuni 50.000 penduduk sebelum dievakuasi; taman rekreasi yang terbengkalai dengan bianglalanya; menjelajah sudut kota Chernobyl; dan tentu saja reaktor nomor empat yang meledak.

Biasanya pengunjung memilih tur sehari dengan tarif mulai 99 dolar Amerika, sudah termasuk transportasi dari dan ke Kiev, pemandu profesional, dan izin masuk zona Chernobyl. Untuk mengikuti tur ini, peserta mesti berusia di atas 18 tahun, sedangkan ibu hamil tidak dizinkan untuk ikut serta. Partisipan tur wajib mengenakan baju yang menutupi tubuh, seperti mengenakan baju tangan panjang atau jaket, tidak memakai celana pendek, rok, atau celana legging, juga memakai alas kaki yang menutupi seluruh kaki (boots atau sneakers). Dengan adanya pembatasan perjalanan, mereka yang di rumah dapat melihat gambaran kota mati ini tanpa perlu merogoh kocek dengan perjalanan virtual.

  • Auschwitz-Birkenau State Museum, Polandia

Lebih dari dua juta wisatawan mengunjungi bekas kamp konsentrasi yang dididirikan pada 1940 dan beroperasi selama Perang Dunia II sebagai penjara dan tempat eksekusi massal. Para tahanan di sini menjadi korban penyiksaan, eksperimen medis yang kejam oleh Nazi, dan diperkirakan satu dari enam orang Yahudi tewas di kamp ini, yang sebagian besar dibunuh dengan dimasukkan ke dalam kamar gas beracun.

Sebagai simbol Holocaust dan tempat eksekusi paling terkenal di dunia, awalnya Auschwitz merupakan penjara bagi tahanan Polandia, kemudian berganti fungsi sebagai tempat pembunuhan massal bagi orang Yahudi. Kamp konsentrasi ini terdiri tiga bagian, yaitu Auschwitz I, Auschwitz II (yang dikenal sebagai Birkenau), dan Auschwitz III. Auschwitz II atau Birkenau didirikan Nazi sebagai solusi akhir untuk memusnahkan semua Yahudi di Eropa.

Tidak hanya orang Yahudi yang menjadi korban selama ditahan di Auschwitz, tercatat warga negara lain turut tewas di kamp konsentrasi yang dapat diakses dari kota Krakow. Ada sekitar 22.000 tahanan asal Rumania dan 150.000 orang Polandia yang terbunuh di Auschwitz. Belum termasuk 15.000 tahanan perang asal Rusia dan 400-an pengikut Saksi-saksi Yehuwa (Jehovah’s Witnesses ).

Tentara Merah (Red Soldier) dari Rusia (dulu Uni Soviet) mengambil alih Auschwitz dan membebaskan tahanan yang tersisa pada pertengahan Januari 1945. Sebagai salah satu destinasi Holocaust populer di dunia, Auschwitz wajib didatangi. Pengunjung dapat mengikuti tur dengan pemandu, dengan mengecek jadwal tur melalui situs resmi. Sebelum berkunjung, wisatawan dapat mendaftarkan diri dan memilih mengikuti tur berbahasa Inggris atau bahasa lainnya. Mereka yang di rumah saja dapat mencari tahu lebih banyak mengenai Auschwitz secara virtual di sini.

  • Paris Catacombs, Prancis

Sejarah gelap Paris berada di bawah kotanya melalui Catacombs of Paris, kuburan massal jutaan orang yang berisi tulang-belulang, yang sebagian dimasukkan dalam ossuaries (semacam peti mati). Cerita di balik Catacombs bermula saat abad 18, ketika Les Innocents – lahan pemakaman umum terbesar di Paris saat itu sudah melebihi kapasitas.

Warga Paris mulai mengeluhkan bau jasad hingga membuat area sekitar pemakaman menjadi sarang penyakit. Sebagai solusi, pemerintah kota Paris membongkar Les Innocents dan memindahkan tulang-belulang jenazah ke bekas pertambangan batu kapur. Ratusan tahun kemudian, sumber petaka ini menjadi salah satu atraksi wisata unik di Paris.

Ketika tulang-tulang ini dipindahkan ke kuburan bawah tanah, awalnya hanya ditumpuk sembarangan. Louis- Étienne Héricart de Thury yang mengawasi proses tranformasi area pertambangan mengerahkan tim untuk menumpuk femur (tulang paha) dan tengkorak membentuk dinding, yang sekarang tampak seperti instalansi seni bawah tanah.

Selain tumpukan tengkorak dan tulang yang dibentuk hati dan salib, Paris Catacombs juga memiliki karya seni lainnya. Pengunjung dapat menemukan patung-patung Francois Décure, ia adalah pekerja tambang yang menghabiskan sebagian waktunya menciptakan patung-patung kecil di dinding-dinding kapur. Dia mengukir gambar Quartier De Cazerne, Port Philipe, bahkan penjara Port Mahon. Décure terbunuh saat ekspedisi di dalam terowongan Catacombs, tetapi hasil karyanya tetap bertahan hingga saat ini. Pejalan di rumah yang ingin menyusuri lorong-lorong gelap di Paris Catacombs, dapat mengunjunginya di sini.

  • Winchester Mystery House, Amerika Serikat

Rumah besar di San Jose, California ini dulunya merupakan kediaman Sarah Winchester, janda pengusaha senjata api, William Wirt Wincheter. Terdaftar sebagai tempat bersejarah nasional di Amerika, rumah bergaya Queen Anne ini kini berfungsi sebagai objek wisata misteri dan arsitektur. Winchester Mystery House menjadi populer berkat cerita rakyat yang beredar, bahwa Sarah mencari ahli spiritual untuk berkomunikasi dengan orang yang sudah tiada.

Konon, William memberi tahu Sarah untuk membangun rumah bagi dirinya sendiri, juga untuk roh-roh jahat karena bisnis senjata yang dilakoni mendiang suaminya dipercaya mendatangkan karma buruk. Ia memperingatkan Sarah mengenai hantu pendendam yang akan mencarinya dan satu-satunya cara untuk selamat dengan membangun rumah. Jika Sarah berhenti membangun, ia akan mati.

Sarah Winchester menghabiskan lebih dari 5,5 juta dolar Amerika untuk membangun Winchester Mystery House. Rumah ini memiliki memiliki 160 kamar, meliputi 40 kamar tidur, 40 tangga, 13 kamar mandi, enam dapur, 10.000 jendela, 2.000 pintu, 52 skylight, 47 perapian, tiga lift, dua ruang bawah tanah. Sarah mengajukan banyak permintaan aneh kepada pekerja bangunannya, seperti membangun pintu perangkap, lorong rahasia, jendela dengan motif jaring laba-laba, tangga yang dapat menuju ke banyak arah, hingga pintu yang terbuka ke dinding kosong.

Memasuki Winchester Mystery House layaknya berada di labirin, tujuannya untuk membingungkan para hantu dan menyediakan akses untuk melarikan diri. Setelah kematian Sarah, orang-orang yang berkunjung ke rumah ini mengakui tidak ada arah yang pasti di rumah ini. Anda mengira sedang menuju lantai bawah tapi akses tersebut sama sekali tidak berujung di ruang bawah tanah, begitu juga sebaliknya. Penasaran dengan bagian dalam Winchester Mystery House? Tonton video tur mengitari rumah yang dapat disewa selama 72 jam.

Teks: Priscilla Picauly

 

 

Previous articleBaznas Kelola Zakat Center di Cingcin Kabupaten Bandung
Next article3 Tempat Menakjubkan di Hong Kong untuk Para Pencinta Fotografi