Berada di ketinggian 1.600 mdpl, Lembah Baliem di Kabupaten Jayawijaya, Papua menawarkan pemandangan yang masih alami dengan hamparan perbukitan hijau dan pegunungan. Saking luasnya, lembah yang merupakan tempat tinggal suku Dani ini tak mungkin bisa dijelajahi dalam waktu satu-dua hari.

Karena itu, wisatawan disarankan untuk membeli paket perjalanan dari operator tur (bisa dijumpai di Bandara Wamena) yang biasanya berkisar dari lima hingga delapan hari. Selain trekking untuk menikmati keindahan alamnya, kamu juga akan diajak mengunjungi desa-desa tradisional untuk memahami suku pedalaman yang hidup selaras dengan alam.

Atraksi yang paling ditunggu-tunggu adalah kesempatan bermalam di honai (rumah tradisional suku Dani), selain juga berkunjung ke desa yang memiliki mumi berusia ratusan tahun.

Mumi tersebut bernama Wim Motok Mabel. Semasa hidupnya, ia adalah panglima perang yang sangat disegani di Lembah Baliem. Menjelang kematiannya, ia berpesan agar jenazahnya diawetkan supaya anak cucunya bisa mengenang jasanya semasa hidup.

Saat ia gugur, jenasahnya diletakkan di sebuah honai di Desa Jiwika, Distrik Kurulu. Jenazah Wim Motok dibalur lemak babi dan diletakkan di langit-langit honai, kemudian api dinyalakan selama 200 hari tanpa henti.

Foto: Instagram @aconk_firmansyah

Kini mumi asap Wim Motok Mabel telah menghitam dan setiap kali ada turis datang, penduduk Jiwika akan berhati-hati mengangkat dan memamerkannya.

Sosok hitam itu telah menyusut dan mengeras dalam posisi duduk dengan kaki dan tangan yang menekuk. Wajah mumi itu tampak sedang berteriak. Mulutnya menganga lebar, seakan sedang menjerit ketika ajal menjemputnya.

Usia mumi panglima perang itu lebih dari 280 tahun. Hal ini dapat terlihat dari jumlah tali di lehernya yang bertambah setiap tahun.

Bagi penduduk Lembah Baliem, mumi dipercaya dapat membawa kesembuhan, memberi kesuksesan, dan memenangkan peperangan. Warga Jiwika masih percaya bahwa Wim Motok Mabel akan terus melindungi desa mereka. Dan memang benar, turis yang berbondong-bondong ke Jiwika adalah sumber penghasilan bagi masyarakat desa.

Tertarik menyambangi mumi tersebut? Kamu bisa berkunjung ke Lembah Baliem sepanjang tahun, terutama ketika digelar Festival Lembah Baliem dan suku-suku di sekitar lembah akan berkumpul dan memamerkan kebudayaan suku Dani.

Namun saat festival digelar juga menjadi bulan teramai di Wamena. Karena jumlah penginapan terbatas, bila berkunjung di saat-saat ini sebaiknya pesan kamar dari jauh-jauh hari.

Saat berwisata, jangan lupa minta ditemani pemandu lokal untuk kelancaran komunikasi dengan penduduk, terutama bila berencana berkunjung ke desa-desa. Kenakan pula sepatu trekking yang nyaman untuk berjalan jauh.

Teks: Melinda Yuliani

Previous articleKuliner Khas Kapuas Hulu
Next article10 Tempat Nongkrong di Denpasar yang Keren dan Asik